E-book Windows Java Symbian My Playlist Video
Blogger Skins Scripts Blogging Tips Link Kosong Link Kosong
Blogs Review Cerita Hot Link Kosong Link Kosong
KonsultasiFacebookku Twitterku Software CommunityConnected ForeverMusik Favorit
Tampilkan postingan dengan label Incest. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Incest. Tampilkan semua postingan
Senin, 10 Mei 2010 | 05.35 | 1 Comments

Arti Senyuman Ibu

Sejak menjadi lumpuh akibat kecelakaan 7 bulan yang lalu nampaknya ayahku semakin depresi dari hari ke hari, sehingga suatu hari dia tiba-tiba ngamuk. Dia mengusir kami keluar dari rumah. Awalnya kami tidak menghiraukan omongan dia yang marah itu, tapi ketika melihat dia merangkak kedapur dan mengancam akan membakar rumah, kamipun mulai keluar. Ibuku, aku, dan adik perempuanku yang masih berumur 7 tahun hanya bisa menangis sambil membawa keluar barang-barang berlomba dengan api yang terus melahap rumah kayu kami sementara orang-orangpun mulai berdatangan untuk menolong dan menonton. Untunglah ibuku sempat mengambil simpanan uang sekitar 9 jutaan, dan perhiasaan, demikian juga aku dan adikku sempat membawa hampir semua pakaian kami, sementara ayah ikut habis dimakan api. Nampaknya tidak ada pilihan lain untuk menghemat uang, kami terpaksa mengontrak sebuah rumah kecil yang tidak jauh dari situ. Rumah itu benar-benar sempit bagi kami bertiga, sehingga kamipun harus tidur satu kasur di dalam kamar tidur yang memang cuma satu. Namun yang menjadi masalah besar bagi kami, yaitu kami harus berurusan dengan polisi, sebagai buntut dari kasus bunuh diri ayah. Hampir 2 minggu baru kami bisa merasa tenang, meskipun urasannya belum selesai, tetapi kami bisa bebas dari 'bolak balik dipanggil' polisi, ibupun bisa kembali bekerja di sebuah salon dan sekolah akupun tidak lagi terganggu. Hari-hari berlalu kamipun mulai bisa melupakan masalah besar yang pernah menimpa kami, dan canda tawapun mulai ada diantara kami meskipun masih jarang. Memang semua sudah mulai normal tapi aku malah semakin tidak normal, dari malam ke malam aku semakin gelisah, setiap melihat ibuku mulai berbaring, hatiku terasa menyadari bahwa ibuku kesepian sejak ayah sakit, dan aku ingin menggantikan posisi ayah memeluk dan menindih ibu. Tapi benarkah ibu merasa kesepian dan maukah ibu jika aku lakukan itu?Memang meskipun kami tidur satu kasur, namun saking sibuknya kami kadang tidak banyak ngobrol, kalau malam kadang malas ngobrol karena tidak mau menggangu adikku yang mau cepat tidur. Suatu malam ketika seperti biasanya kami mulai duduk diatas kasur hendak tidur, sementara adik duluan tidur ditengah antara aku dan ibu, aku coba berbicara: “bu, ada yang ingin aku omongkan” “kenapa nak?” ibu dengan suara lembut. Aku menarik nafas panjang:”nampaknya kita harus ngobrol diruang tamu aja, ga pa-pa kan ma?” Aku duluan berdiri dan langsung menuju sofa yang sudah robek-robek tapi masih lembut diruang tamu itu, kemudian ibu mengikuti duduk diujung sofa.”Ada apa nak” ibu bertanya lagi sambil seperti menahan kantuk. “Ga pa-pa kok ibu, aku cuma rindu dan pingin ngobrol sama ibu, ga marahkan!” “Ah! Masak marah sih!” ibu tersenyum. “Bu,” aku menarik nafas, “apa ibu ga ada rencana nikah lagi?” Ibu tersenyum lagi, “ha..ha.. kenapa memang?” “Ga pa-pa, tapi ibu ga kesepian?” aku memberanikan diri memandang wajah ibu. Ibu terdiam kemudian menunduk. Dengan jantung berdenyut hebat, aku mulai mendekati ibu, langsung memegang tangannya. Sementara ibu masih terdiam menunduk, aku mulai memeluk lembut. “Kenapa kamu grosi?” ibu tiba-tiba berbicara membuat aku terkejut. “ga-ga…” aku gugup. Membuat ibu tersenyum lagi namun untuk senyum yang ketiga kali ini aku tafsir sebagai sinyal bahwa ibu mengerti perasaanku. Untuk itu aku coba mencium pipinya. Ternyata benar ibu menikmati, sehingga aku merasa diberi kekuasaan untuk mengecup bibirnya dan terus melumat.

Seperti biasanya dalam dunia kasmaran, kami duapun saling mematuk, berlomba memberi kenikmatan dan secara otomatis tanganku meraba dan terus membukakan pakaian ibu. Payudaranya sudah tidak kencang lagi, tapi aku begitu berhasrat mengenang masa balitaku dengan mengisap pentil kemerah-merahan itu. Dengan sedikit panduan dari ibu akupun mulai memasukkan penisku, karena memang ibu sudah mengambil posisi menekukkan lututnya, namun ketika aku mulai memperkuat goyangan, mungkin karena sofa ‘klasik’ itu ikut bergoyang sehingga menimbulkan suara, dan mungkin kemudian membuat adikku yang dikamar tiba-tiba terbangun dan langsung memanggil “mama!” Kami dua kaget, dan spontan aku mencabut penisku sekaligus mengambil pakaian masing-masing untuk menutupi tubuh. Ibu membalutkan pakaiannya ditubuhnya dan dengan ekpresi gusar ibu masuk kemar sambil berbicara: “kenapa nak, ini ibu disini.” Beberapa menit kemudian Nampak ibu kembali kepadaku dikamar tamu dengan membawa selimut. “Kita ulang lagi ya, sayang” suara ibu terdengar serak. Kami duapun segera mengambil posisi diatas sofa, mengabaikan kemungkinan adik terbangun lagi. Namun ketika aku hendak memasukkan penisku lagi, tiba-tiba ibu berbicara: “biar ibu aja yang diatas, biar suaranya ga kuat” ibu sepertinya menghindari suara goyangan sofa yang bisa membuat adikku terbangun lagi. Tapi sama saja, goyangan ibu juga membuat ada bunyi-bunyian disofa tua itu, namun ibu sepertinya tidak mau peduli, dia terus saja membuat aku merasakan kenikmatan tiada tara, sehingga sebuah panggilan terdengar: “mama!” Ibu cepat-cepat mengambil selimut kemudian menutupi tubuhnya dan bagian bawah tubuhku.”Mama kenapa disitu?” adikku terbangun dan kemudian menghampiri kami dengan ekspresi penasaran. “Ka..ka..mu liat ibu lagi mijat kakak mu!” ibu menaruh tangannya diatas dadaku yang telanjang. “Memangnya kaka sakit apa?” Ibu tidak menjawab dan akupun tidak mampu menjawab karena ibu mulai bergoyang lagi dengan lembut didalam selimut, tidak peduli dengan adikku yang berdiri disamping kami.

Tulisan ini TIDAK bermanfaat?

Bermain Ombak

Dikampung kami yang jauh dipelosok hutan kalimantan tidak ada sekolah sederajat SMU, jadi aku terpaksa bersekolah di kota kecamatan, kalau sudah liburan baru pulang kampung. Biasanya musim liburan bertepatan dengan ‘musim banjir,’ didaerah kami, jadi jika musim banjir maka kegiatan sehari-sehari kami dikampung lebih banyak berada didalam perahu. Aku senang sekali kalau banjir, karena bisa bermain perahu mengenang masa kecilku. Seperti biasanya tugasku dikampung yaitu mencari ikan dan kayu bakar. Karena itu begitu habis sarapan pagi aku siap-siap pergi mancing. Namun ketika aku membereskan perahu tak sengaja aku melihat ibuku sedang mandi, betapa mulus, seksi dan cantiknya. “Mak!” aku coba ngagetin dia, “kita pergi mancing yuk mak” aku bersikap manja. “Tugas mamak di rumah, kamu yang pergi mancing” ibuku menjawab. “Yuk, mak, kalau berdua kan dapatnya banyak dan cepat, ya kan Mak, nanti aku bantu juga pekerjaan mamak dirumah pulang mancing.” “Iyalah!” ibu dengan gaya terpaksa. Aku langsung melonjat, “hore…mancing!” Setelah ibu selesai mandi dan dandan ala kampung, kami berduapun mulai mengayuh perahu kecil yang cuma muat dua orang menuju kedalam hutan. Berlomba-lomba dengan beberapa perahu lainnya. Ibu mengajak mancing ditempat yang rame dimana banyak pemancing lain, karena dianggap banyak ikannya, namun aku coba berbohong pada ibu bahwa aku tau tempat lain lebih banyak ikannya. Ibupun mengalah sehingga kami duapun mengayuh perahu kepelosok hutan. Entah kenapa ditempat yang aku karang-karang itu ternyata ada banyak ikannya juga sehingga kami langsung sibuk memancing. Sepertinya aku kesulitan menemukan kesempatan, namun sudah tidak tahan aku mendekat ke ibu yang duduk di bagian depan perahu. “Pah…pak!” ibu berteriak karena perahu oleng dikit, “jangan kesini, karam kita nanti!” ibu menjelas. “Makanya mamak ketengah sini, biar kita sama-sama duduk ditengah biar perahu seimbang,” aku membalas. Ibu pun dengan terpaksa mundur untuk duduk didekatku ditengah perahu.”Tuh, imbangkan?” aku membuktikan. Ibu duduk membelakangiku, dan dia terus memancing. Aku menaruh pancingku dibelakang perahu. Lalu membukakan kakiku sehingga memeluk ibuku dengan kakiku. “Apa-apaan ini” ibu kaget. “Terus aja mancing mak!” aku berkilah. Kemudian tanganku lagi memeluk dari belakang. “Pah, apa maksud kamu?” ibu tiba-tiba meraih dayung. Aku langsung kaget, “mamak mau pukul aku dengan dayung, ya?” Ibu diam saja dan dengan sekuat tenaga dia mendayung kearah pulang. Aku terus mempererat pelukan, mencium leher, telinga, tanpa peduli kemana arah perahu. Entah kenapa beberapa menit kemudian ibu berhenti mendayung, dia terdiam. Aku terus memeluk dan membukakan bajunya mengikuti alur film porno yang pernah aku tonton. Sepertinya aku berhasil, ibu membiarkan aku bereaksi. Aku mencium tubuhnya yang mulus, putih dan kencang. Untung aku tersadar kalau perahu hanyut mengikuti aliran air, sehingga aku melepas tubuh yang bugil yang terdiam membisu, dan aku mulai mengayuh kembali kehutan yang sunyi. Sepanjang aku mendayung ibu terdiam menundukkan kepalanya. Setelah sampai ketempat yang ku anggap aman akupun mulai lagi mengekplore tubuh ibu. Aku memijit payudaranya, setelah aku minta ibu bergaya doggy supaya aku bisa menjilat pukinya. Ibu mulai menikmati, akhirnya aku memasukkan penisku kepuki yang basah dengan gaya doggy. BETAPA INDAHNYA OMBAK BERIRAMA MENGIKUTI GOYANGAN PERAHU DAN BETAPA NIKMATNYA AKU MENGATUR IRAMA OMBAK TERSEBUT. Akupun ingin berganti gaya, sehingga aku minta ibu berbaring terlentang, aku tekukkan kakinya dan mulai bermain lagi dengan ombak. Waktu kecil aku suka bermain ombak dengan perahu namun ini ombaknya sangat nikmat, ibupun nampaknya bisa menyadari bahwa ombak itu telah membawa kenikmatan tersendiri. Buktinya, hari-hari berikutnya ibu selalu bersemangat jika aku mengajak mancing. Tulisan ini TIDAK bermanfaat?

Minum Susu



Mamaku memang cantik, aku senang sekali melihat dan memikirkan payudaranya yang lumayan membengkak itu. Namun sebenarnya aku jarang sekali ketemu sama mama

dan papaku apalagi ngobrol dengan mereka, karena mereka selalu pulang kerumah jam 9an, katanya nyamperin fitness dari pulang kerja. Akupun agak bebas dirumah

menghabiskan waktu dengan main game, dan hari itu aku dapat game baru sehingga dari pulang sekolah aku dikamar terus sampai lupa makan. Aku dengar adikku dan

pembantu kami manggil aku makan tapi aku tidak peduli. Entah mungkin adikku ngelaporin kalau aku tidak makan sehingga aku dengar suara mamaku dari luar,

“Kian kamu sakit kah?” dia langsung membuka pintu. “Ya ma, perutku mual nich, tapi ga pa-pa aku udah makan obat. “Mama tiba-tiba keluar lagi dan balik dengan

papaku. “Benar kamu udah makan obat?” papaku memastikan, kemudian mereka berdua mijit aku. Tidak lama mereka dua mijit, cium aku lalu keluar, setelah aku

berjanji akan makan. Aku kedapur cari makanan kemudian lanjut main game. Sampai tengah malam, tiba-tiba aku dengar langkah menuju kamarku, ternyata mama

datang untuk memastikan keadaanku, ketika mama hendak pergi aku coba bermohon, “ma, tolong pijit aku lagi dong,” “Ah, manjanya” tapi mama menghampiri aku.

Ketika mama mulai mijit aku pegang tangannya dan mengarahkan kepada penisku yang tegang, mama sempat terkejut namun kemudian memperhatikan aku ngomong,

“coba, ma, kontolku selalu konak kalau liat mama.” Mama terdiam kemudian tersenyum “benar kamu udah makan Yan?” “Ya, udahlah, tapi belum minum susu.” “Pergi

bikin haq bikin susunya!” mama dikit merintah. Aku keluar dan balik kekamar dengan segelas susu ternyata mama masih tetap disitu. Aku letakkan saja susu

diatas meja dan langsung memeluk mama, entah apa perasaan mama, pokoknya kami dua mulai bercinta, mama sepertinya membiarkan aku bereksperimen, aku bukakan

daster mama dan langsung mengisap payudara kencang indah kebanggaanku, “ma, udah lama aku pingin mendaki gunung mama yang indah ini” aku terus terang. Mama

begitu bergairah, ketika aku menjilat dan mengisap puting susunya, ketika aku hendak mengambil nafas mataku tertuju kesegelas susu, aku segera mengambil susu

dan meminta mama berbaring di kasur menggunakan dua bantal. Sedikit-sedikit aku tuang susu di dada mama dan membiarkan mengalir menuju vagina kemudian aku

menjilat tetesan susu itu dari vagina menuju dada dan selalu lama singgah di payudara pujaanku itu. Entah berapa lama aku berjuang untuk menguasai wilayah

dada, sehingga aku merasa mama memberi kode agar aku segera memasukkan peluruku kedalam meriamnya yang lembut itu. Begitu masuk, aku merasa harus minta izin

mengemudi dulu dengan mengecup bibir mama. Setelah,mama memberi izin, dengan menaggukkan kepalanya maka aku pun menjalankan goyangan penuh. Membiarkan mama

merintih, sekali-kali aku memegang pentil payudara pujaanku itu. Kemudian terus memacu, sehingga aku rasa kaki mama menekan paha dan pantatku, membuat aku

terjrembab, penisku pun masuk terlalu dalam dan langsung menembak. Kami duapun menarik nafas panjang, malam itu adalah titik awal aku bisa lebih dekat dan

akrab dengan mama, aku tidak lagi merasa kesepian kehilangan orang tua. Aku sangat berterima kasih punya mama yang bisa dan rela memberikan segalanya bagiku,

bagi kebahagianku, dia adalah mama yang terbaik. Mama yang mau berbagi gairah denganku.

Tulisan ini TIDAK bermanfaat?

Dendam


Aku tinggal di kampung bersama ayahku sejak ayah dan ibu bercerai enam tahun lalu. Sementara ibuku pergi ke kota, dan aku mendengar kalau ibu udah berapa

kali menikah dan bercerai, sekarang menikah lagi dikota sana. Suatu waktu aku menghadiri sebuah acara adat dikampung tempat ibuku berasal, disebuah warung

sekelompok orang yang seumuran ayahku tiba-tiba tertawa-tawa melihat aku, aku sempat berfikir “apa yang lucu dengan aku? “Tidak lama salah seorang dari

mereka bertanya kepadaku “kamu anaknya Meni ya?” Aku mengangguk. “Kalau kamu anak Meni berarti itu ayah kamu” dia tertawa sambil menunjukkan salah seorang

dari mereka. “Ah kamu juga ayahnya kok” yang lain menyahut, sambil mereka tertawa-tawa. Betapa sakitnya hatiku mendengar ejekan itu. Sehingga menimbulkan

rasa dendam yang sangat terhadap ibuku. Sampai suatu waktu aku berkesempatan berkunjung ke tempat ibuku dikota. Aku merasa kedatanganku tidak disambut,

membuatku sedikit sedih “tapi ga pa-pa” aku menghibur diri. Sebagaimana yang aku tunggu-tunggu suatu siang hanya aku dan ibu dirumah, tapi ibu sunyi sepi

dalam kamarnya. Aku datang mengetuk kamarnya. Lama tidak ada respon tapi akhir terdengar suara: “ada apa?”Aku langsung membuka pintu, ternyata dia lagi

lulur, dia coba menutupi sebagian badannya dengan handuk kecil. “Ada apa?” dia mengulang. Tanpa ngomong aku mendekati dan langsung mendekap dia.”Ada apa

ini!?” dia berteriak sekaligus berusaha melepaskan dekapanku, namun justru membuat handuknya terlepas sehingga diapun telanjang. “Ma ma” aku berusaha meredam

pemberontakannya. Ya, berhasil juga, dia terdiam, sementara aku memeluk dari belakang badannya yang telanjang itu. Aku mulai mencium belakang telinganya,

membalikkan badannya, kini nampaknya dia membiarkan aku berkuasa, memberi kesempatan aku untuk melampias dendamku sehingga dengan bringas aku mencium sekujur

tubuhnya. Aku bisa merasakan tubuh ibu yang mulus, dan kencang. Kemudian aku menarik tangan ibu, membawa dia naik keatas tempat tidur. Dia diam saja

mengikuti, begitu diatas tempat tidur dengan cepat aku membukakan celanaku dan langsung mengarahkan penisku kearah vagina ibu. Goyangan demi goyangan

berlalu, nafas berkejaran. Sejak saat itu, meskipun sikap ibu seperti jutek terhadap aku, tetapi kalau aku ngajak main tidak pernah ditolaknya, itu sebabnya

akupun sedikit betah disitu, sampai hampir 3 bulan aku 'berbulan madu' akupun pulang kembali ke kampung.
Tulisan ini TIDAK bermanfaat?

Menyesal

Namaku Nani Pertiwi, sekarang umurku 38 thn, aku tinggal di Balikpapan. Sudah 4 kali aku menikah namun selalu berakhir dengan perceraian krn itu aku tidak berniat utk menikah lagi. Meskipun aku tidak menikah namun tdk berarti aku kesepian karena aku masih selalu bisa menikmati hubungan seks dgn seorang pria yg mengaku sangat mencintaiku, namanya Ronni, yg hampir setiap akhir pekan dia dtg menghangat tubuhku, kebetulan dia memang keponakanku jadi sudah merupakan kewajiban dia mengunjungi aku sebagai tante dia. Aku juga punya seorang putra yg masih duduk di kelas 1 SMA, namanya Tommy. Sebagaimana saudara sepupu Ronni sama Tommy sangat akrab, biasanya aku dengar mereka dua ngomongin soal komputer, kebetulan Ronni kuliah ngambil jurusan TI. Hanya saja aku kadang tersenyum melihat mereka berduaseperti ayah dan anak karena Ronni beliin komputer, pakaian, VCD dsb. utk Tommy. Aku bisa duga itu merupakan siasat Ronny agar hubungan asmara kami berdua aman dari gangguan Tommy. Namun sepandai-pandainya kami dua menyembunyikan hubungan percintaan itu, nampaknya Tommy mulai mencium juga, sebagaimana terungkap dalam pertanyaan dia: “kemana aja sih mama sama kak Ronni, kenapa dari dulu aku tdk pernah boleh ikut?!” Aku benar-benar kaget sehingga tdk tau mau jawab apa, namun muncul dibenakku, “apakah Tommy cemburu?” utk itu aku coba tersenyum, tanpa berkata aku memeluk dan mencium keningnya. Namun tiba-tiba Tommy mengecup bibirku, dgn nafas yg cepat dia mengisap-isap bibirku. Akupun ikut liar ketika merasakan aliran kenikmatan, aku mulai membukakan pakaianku kemudian diikuti oleh Tommy. Pedahal baru saja hampir sepanjang hari aku bercinta dg Ronni. Aku melihat dan merasakan kalau Tommy gugup, namun tubuhku yg bugil membuat dia nampak semakin bergairah. Dia mematuk lagi bibirku, kemudian melumat payudaraku, membuat kenikmatan itu menutupi mataku dr suatu yg tidak pernah aku duga. Yaitu setelah dia memporak-porandakan vaginaku dgn jilatan tabunya, akupun tdk sabar ingin merasakan penis putra kesayanganku, namun aku benar-benar sangat kaget dan tertegun melihat penis besar teraneh yg pernah aku liat karena bnyk bulu didekat ujungnya. Tommy nampak sangat berhati-hati memasukkan penisnya membuat aku tersenyum mewakili senyuman vaginaku yg berbahagia “dulu dia keluar dari ku, kini dia kembali memasuk sesuatu yg nikmat kepadaku” Setelah bercinta dg Tommy tiba-tiba aku merasa menyesal: “mengapa dr dulu aku mencari kenikmatan itu diluar sana, pedahal ada dlm rumahku” Ada dua alasan mengapa aku mempublikasikan pengalamanku ini: pertama, karena aku benar-benar merasakan pengalaman bercinta yg luar biasa dg putraku Tommy. Kedua, karena aku berharap pengalaman ini menjadi pelajaran bagi kita bhw kadang apa yg kita cari diluar sana ternyata ada dlm rumah kita sendiri. Tulisan ini TIDAK bermanfaat?

Program Membesarkan Penis


Sekilas gue dengar bokap ma nyokap bertengkar seperti biasa gue ga peduli, namun setelah dengar bokap berteriak: “ah, itu cuma alasan biar kamu bisa

selingkuh!” gue tiba2 pingin tau topik pertengkaran itu. Tapi setelah itu gw cuma dengar suara nyokap menangis kemudian tiba2, muncul bokap dari balik pintu

kamar tidur, langsung keluar, masuk mobil dan pergi. Gue berfikir sbentar kemudian masuk kekamar nyokap: “kenapa ma?” nyokap cuma menangis aja, ga jawab

pertanyaan gue. Berfikir lagi sebentar dan bermaksud mau pergi karena merasa ga dipedulikan, namun begitu gue melihat sebuah amplop besar yang setengah robek

diatas meja, gue segera mendekati meja. Tetapi ketika tangan gue mengulur kearah amplop, tiba2 nyokap terkaget, dan berkata: “jangan! Itu dokumen kantor”

“Dokumen kantor?, ngak ah, gue liat itu brosur kok” gue kebetulan bisa melihat dari sisi yg robek mirip brosur, dg cepat gue langsung memegang amplop tsb.

“Wah, cara membesarkan penis” gue kegirangan, “ini yg gue cari2.” Gue terus baca, ternyata didlm ada juga VCD Gue langsung ke laptop di meja sebelah yg

kebetulan masih on dan pasti gue langsung putar. Itu adalah panduan utk membesarkan penis tapi ada petunjuk-petunjuk yang mengarah seperti 'filem bokep' tapi

ga ada ceweknya, bosan ngeliat adegan cowok menarik-narik kontolnya, gue baru tersadar klo ada nyokap disekitar gue. “Ah, ga ngerti gue, banyak banget begini

begitunya” gue ngeluh kpd nyokap, seakan baru liat yang begitu-begitu. Hampir satu menit ga respon namun tiba2 nyokap ngomong: “biar mama yg bantu” “Ah!” gue

terkaget. Nyokap langsung beranjak dari duduk dan mendekati gue, “sini!” nyokap menyadarkan gue dari keasyikan melihat adegan cara membesarkan penis itu.

“Kayak gitu?” gue nunjuk kelayar laptop. “Iyalah” nyokap memegang dibahu gue. Tanpa pikir panjang gue langsung buka celana dan langsung menunjukkan kontol

gue yg menegang. Nyokap menunduk bertelut, mengelus, membelai dan ga lama mengulum. Wah, hilang udah kesadaran gue, dg pelan gue memegang kepala nyokap agar

berhenti, setelah itu gue langsung menunduk utk membukakan kancing kemeja nyokap. Begitu misi buka membuka selesai, gue langsung mengecup bibir nyokap,

memcium dari atas, sangkut di sepasang toket, kemudian sampai ke memek yg basah. Mungkin lama bibir gue bersarang diantara rumput halus itu, membiarkan

nyokap melepas suara rintihan kecil. “Ma..” gue meminta pendapat. Nyokap memegang tangan gue menarik kekasur.Dia langsung berbaring terlentang,

mengindikasikan agar gue meneruskan misi yg paling penting. Dari cerita nyokap baru gue tau kalau apa yg diamplop tadi adalah paket yg dibeli nyokap utk

bokap namun nyokap mengangap itu sebagai penghinaan makanya mereka bertengkar tadi
Tulisan ini TIDAK bermanfaat?

Merusak Gagang Pintu

Sejak kecil yang aku tau bahwa ibuku kerjanya adalah menjual jamu di warung jamu kami yang dibangun di pinggir jalan, sementara rumah kami agak masuk kedalam gang sempit. Sebenarnya aku kadang merasa malu dengan pekerjaan ibuku sebagai penjual jamu itu, namun ada satu hal yang membuat aku sedikit aneh sejak aku memasuki usia remaja sebagaimana yang aku lihat dan apa yang dikatakan oleh orang-orang ‘dewasa’ bahwa ibuku selalu cantik, yang menurut mereka karena teratur minum jamu.Memang kalau aku lagi di warung sering aku liat para ‘buaya’ menggoda ibuku, bila ayahku tidak ada disitu, apalagi ayahku bekerja sebagai supir angkot jadi jarang mangkal dirumah. Rasa aneh itu yaitu aku cinta pada ibuku yang cantik itu. Sehingga sekarang usiaku memasuki 19 tahun rasa cinta itu semakin besar melebihi rasa cinta kepada pacarku Entah mungkin karena aku rada ganteng sehingga urusan pacar mudah didapat, namun aku selalu penasaran dengan ibuku yang keliatan ‘kalem’ terhadapku, karena menurutku sebagai wanita dia setidaknya tergoda dengan ketampananku, namun sepertinya dia tidak tergoda sama sekali. Inilah membuat aku tergila-gila memikirkan bagaimana supaya ‘mendapat cinta’ ibuku. Aku tidak pernah mengatur strategi untuk mendapatkan pacar tetapi untuk bisa menggauli ibuku, aku sampai ‘berkonsultasi’ dengan seorang lelaki tua yang berpengalaman yang kebetulan akrab denganku, pokoknya dia pintar menurutku, dia memang berpendidikan.Mengikuti nasehat orang yang berpendidikan itu, pada hari minggu aku sibuk sendiri dirumah, tidak mau seperti biasanya ikut membantu pekerjaan diwarung. Setelah merasa aman aku mulai membongkar ‘handle’ (gagang, pegangan pembuka) pintu kamar mandi, dengan tujuan untuk merusak gagang itu atau agar tidak bisa berfungsi untuk mengunci. Setelah dirusak lalu dipasang lagi. Meskipun aku begitu nekat namun aku begitu takut rencanaku gagal dan menjadi masalah besar, karena selama ini yang menghalangi aku untuk bisa menggoda ibuku yaitu selalu ada 2 adik perempuanku yang berumur 16 dan 10 tahun di sekitar itu. Aku takut mereka melihat dan menceritakan kepada ayah, meskipun ayah selalu pulang malam-malam dan kadang dalam keaadan mabuk. Jadi yang aku pikir sekarang bagaimana supaya aman dari adik-adikku kalau aku berhasil menggauli ibuku nanti. Sorepun tiba, 2 adikku itu pulang duluan, seperti biasa dan sebagaimana yang aku harapkan keduanyapun langsung mandi, setelah itu menyiapkan makan malam.Kini aku lagi yang pergi kewarung, namun sepertinya tidak ada kesempatan bagiku untuk bisa menggoda ibuku yang lagi sibuk itu. Tetapi memang tujuanku pergi membantu ibu diwarung agar dia cepat pulang tepat pada waktu adik-adikku selesai makan, jadi mereka sudah sunyi sepi didalam kamar, sementara tidak seperti biasanya ibu pulang hampir bersamaan ayah pulang. Dengan segala bujukan aku berhasil membuat ibu pulang cepat dan agak tepat seperti yang aku harapkan. Dan inilah saat yang dinanti-nanti tapi mendebarkan, yaitu disaat ibu masuk ke kamar mandi untuk mandi. Dari kegelapan aku perhatikan nampaknya dia menyadari ada yang salah dengan gagang pintu kamar mandi, karena dia korak korek gagang itu beberapa kali, kemudian balik kekamar tidur, kembali kekamar mandi dengan membawa kain. Setelah menunggu beberapa saat, kira-kira ibu sudah telanjang bulat didalam kamar mandi menurut perhitunganku, perlahan-lahan aku membuka pintu kamar mandi. Ibu kaget, langsung bertanya: “ada apa?” Dengan membuka kedua tanganku kearah ibu aku bermohon: “tolong bu..”“Memangnya, kamu kenapa?” ibu nampak keheranan. Ternyata ibu tidak telanjang saat itu, dia membalut tubuhnya dengan kain yang dibawa dari kamar tadi. Aku sedikit sadar mengapa ibu mandi berbalut kain seperti itu, untuk mengantisipasi kalau ada yang tiba-tiba masuk kamar mandi yang pintunya tidak bisa dikunci itu. “Bu..” dalam keadaan gugup aku langsung memeluk dan mencium lehernya. Awalnya aku hanya mencium leher dan belakang telinganya, karena memang aku tidak berani memandang wajah ibuku, dan tidak berani ‘berbuat’ terlalu liar, namun setelah aku merasa ibu mulai menikmati dan pasrah, berlahan-lahan aku coba melepas kain yang membalut tubuh ibuku. Entah mungkin karena dari kecil sudah tertanam dalam benakku untuk mengagumi ibuku, sehingga apa yang ku lihat saat itu terasa sungguh luar biasa. Tubuh ibuku padat berisi tidak seperti pacarku yang kurus. Ibu tersenyum sambil melebarkan pahanya untuk menunjukkan vagina yang berotot, gundul dan kemerah-merahan. “Nak..” suara ibu mendesah, “ibu lanjutin mandinya ya, nanti kita lanjut di kamar… liat pintu itukan rusak kuncinya” ibu menunjukkan kedewasaan dan kebijaksanaannya. Bagaimana agar kenikmatan itu tidak menjadi masalah dalam keluarga kami. Sampai disini, nampak merupakan cerita yang indah, namun ada beberapa masalah mulai muncul, diantaranya: (1) Hasratku selalu bergelora sementara aku dan ibu hampir tidak pernah ada waktu yang aman untuk menikmati kenikmatan itu, (2) Kecemburuan ayah kepada ibu semakin membesar, membuat sering terjadi pertengkaran, namun ayah tidak menaruh curiga terhadap aku, dia cemburu terhadap beberapa pelanggan jamu yang suka menggoda ibu. .

Tulisan ini TIDAK bermanfaat?
 
Copyright TEORI KEBAHAGIAN © 2010 - All right reserved - Using Blue Porno Theme
Best viewed with Mozilla, IE, Google Chrome and Opera.